Kecenderungan Mengkonsumsi Mie Instan saat Mendaki Gunung


Mie instan sepertinya menjadi perbekalan wajib pendaki gunung tanah air setiap melakukan pendakian. Nilai “praktis” yang di tawarkan menjadikan menu makanan kaya karbohidrat ini menjadi menu santapan utama selama acara masak-masak pas nge-camp.

Di bandingkan dengan beras yang sama-sama kaya karbohidrat, mi instan masih jauh lebih unggul dan populer yang masuk list perbekalan pendaki saat perencanaan. Harganya yang terjangkau, kemasannya yang bagus dan cara masaknya yang mudah, tinggal rebus kedalam air yang mendidih di nasting dengan di kasih tambahan bumbu yang sudah tersedia sudah bisa langsung di nikmati. Coba kalau bawa beras, selain memberatkan tas ceril, untuk memasaknya juga butuh waktu lama sampai benar-benar “tanek” (matang).

Namun di sisi lain ada yang harus Anda ketahui, jika Anda cenderung mengonsumsi mie instan. Informasi ini bukan bermaksud menakuti Anda sehingga memutuskan untuk meninggalkan menu masakan favorit Anda selama di gunung. Diharapkan dengan mengetahui informasi ini Anda bisa memiliki tips meminimalisirkan efek negatifnya.

Harus di akui mie instan termasuk makanan “junk food” yang telah terbukti apabila di konsumsi terlalu sering bisa mengganggu kesehatan Anda. Terutama akan mengganggu fungsi kerja otak Anda dan kangker yang menjadi momok menakutkan akibat MSG (monosodium glutamat) yang berlebih dan bahan pengawet lainnya di dalam kandungan bahan mie dan bumbunya.

Sudahkan Anda memanage menu makanan selama pendakian Anda?

Misalnya jika Anda mendaki gunung Semeru dengan waktu normal yang biasanya banyak pendaki lakukan (3 malam, 4 hari). Lalu, selama rentang waktu tersebut, setiap pagi, siang, dan malam selalu mengonsumsi mie instan, berarti apa yang Anda lakukan dalam kondisi “berbahaya”. Memang dampaknya tidak langsung terlihat. Namun seiring waktu akan mempengaruhi kesehatan Anda di masa mendatang.

So, apa yang mesti kita lakukan?

Anda sah-sah saja mengonsumsi mie instan selama tidak berlebihan. Para ahli menyarankan untuk mengonsumsinya 2 kali dalam seminggu dan menghimbau sebisa mungkin tidak menggunakan produk ini sebagai makanan pengganti makanan utama (nasi). Itu artinya selama pendakian ke Semeru, seperti contoh di atas Anda sudah bisa memastikan berapa kali memasak mie instan.

Meskipun mie instan menghasilkan kalori yang cukup besar bagi tubuh, sekitar 350 kalori namun kandungan nilai gizi berupa protein, vitamin dan serat pada mie tergolong kecil. Di sarankan saat masak pas ngecamp, tambahkan telur dan sayuran agar kandungan nilai gizinya ikut meningkat.

Fakta dan Mitos Seputar Mie

Berikut ini mitos salah yang berkembang di masyarakat luas. Berikut penjelasan Prof. Dr. F.G. Winarno, Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman) mengenai mie instan.

Mitos: Pada kemasan mie merk tertentu (cup noodle) ada yang menggunakan styrofoam. Mitosnya bahan ini sangat berbahaya bagi kesehatan, apalagi jika styrofoam terkena air panas.

Fakta: Styrofoam untuk mi instan terbukti aman digunakan, karena telah melewati standar BPOM. Cup yang dipakai untuk mi instan adalah styrofoam khusus untuk makanan. Cup ini memang bisa menyerap panas. Namun, karena proses pressing-nya memenuhi standar, molekulstyrofoam tidak larut bersama mi instan saat mi diseduh. Jika mi instan menempel pada cup ketika diseduh, hal itu karena tingginya kadar minyak dalam mi. Desain pun dibuat berbeda, yaitu dengan menambahkan gerigi di bagian atas sehingga tak langsung panas di tangan. Selain itu, expandable polysteren yang digunakan mi instan cup telah melewati penelitian BPOM dan Japan Environment Agency sehingga memenuhi syarat untuk mengemas produk pangan.

Mitos: Mi instan kenyal karena berbahan baku karet.

Fakta: Tidak ada bahan karet dalam mi instan. Mi instan dibuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi dan pilihan terbaik seperti tepung terigu yang sudah difotifikasi dengan zat besi, zinc, vitamin B1, B2, dan asam folat. Begitu pun dengan bumbu, yaitu bawang merah, cabe merah, bawang putih, dan rempah-rempah.

Mitos: Metode dua air terpisah adalah cara terbaik memasak mi.

Fakta: Air rebusan pertamalah yang justru mengandung banyak betakaroten tinggi. Semua vitamin yang larut dalam air terdapat di air rebusan pertama. Apabila air rebusan pertama tadi diganti dengan air matang baru, semua vitaminnya hilang. Selain itu, minyaknyalah yang membuat mi lebih enak. Kandungan betakaroten dan tocoferol dalam minyak juga berguna sebagai kebutuhan gizi.

Mitos: Mi instan mengandung lilin sehingga airnya menguning ketika dimasak.

Fakta: Mi instan tidak mengandung lilin. Lilin adalah senyawa inert untuk melindungi makanan agar tidak basah dan cepat membusuk. Lilin pun sebenarnya ada secara alami dalam apel dan kubis. Jika kubis dicuci, kubis tidak langsung basah. Jika apel digosok, apel akan mengkilap. Hal itu karena adanya lilin alami dalam kubis dan apel. Dalam mi instan, yang merupakan produk kering, lilin sama sekali tidak dibutuhkan.

Air yang menguning saat mi dimasak disebabkan proses deep frying yang berkadar minyak tinggi. Deepfrying dilakukan agar kadar air bisa ditekan sampai titik terendah, sehingga mi instan lebih awet. Kadar minyak ini tersisa pada mi dan menyebabkan mi mengkilap, dan air rebusan menguning dan berminyak.

sumber: http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-news/content/read/kecenderungan-mengonsumsi-mie-instan-saat-pendakian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s