Tingkat kesulitan rute perjalanan


Siapapun yang bertugas memutuskan rute perjalanan, tugas yang pertama yang harus dilakukan adalah melihat/mengetahui kondisi fisik pesertanya, yang mana ini adalah tugas yang sulit. Adalah lebih baik untuk mengandalkan formulir obyektif yang terukur daripada berpatokan pada jawaban “ya, saya dalam kondisi yang baik” dari para peserta. Setelah mereview ribuan formulir kesehatan dan kebugaran dari para pelajar sekolah, saya masih terkejut bagaimana seringnya mereka menganggap lebih dan menganggap kurang kondisi fisik mereka. Menilai rentang kebugaran fisik dari menanyakan beberapa pertanyaan dasar tentang kegiatan kesehatan dan latihan untuk mengelola pemeriksaan fisik yang dibutuhkan. Tentukan penilaian Anda berdasarkan tingkat kesulitan perjalanannya :

  • Jika tingkat kesulitan perjalanannya mudah sampai sedang, dekat dengan perkampungan penduduk, maka Anda mempunyai sumber daya yang lebih besar untuk kembali apabila ada masalah.
  • Jika tingkat kesulitan perjalannya lebih sulit atau pergi ke tempat terpencil dengan akses untuk evakuasi atau perawatan medis yang terbatas, Anda perlu melakukan lebih banyak penyaringan.

Di beberapa kasus, Anda bahkan perlu pengkondisian cara hidup yang khusus. Bagian dari memastikan seseorang pergi dalam perjalanan yang tepat adalah memberikan orang tersebut informasi yang sedetil mungkin mengenai perjalanan yang akan dilakukan. Melakukan perjalanan yang akan sangat menguras kondisi fisik akan menimbulkan pergesekan antara sesama anggota kelompok selain faktor keamanan yang akan timbul.

TINGKAT KESULITAN PERJALANAN
Bukankah akan sangat menyenangkan jika Anda bisa melihat di dalam buku petunjuk dan mengetahui seberapa mudah atau sulit sebuah pendakian? Sayangnya tidak ada sistem standar tentang tingkat kesulitan sebuah trek. Banyak dari olahraga luar ruang (outdoor), seperti panjat tebing dan arung jeram, mempunyai sistem untuk tingkat kesulitan dari jalur pemanjatan atau jeram sungai. Sistem ini sangat berguna untuk menyesuaikan kemampuan Anda dengan tingkat kesulitan perjalanannya.
Ada banyak faktor yang dapat memperlambat atau mempercepat seorang pendaki yang membuat penilaian tingkat kesulitan sebuah trek sangat subyektif. Contoh saja Appalachian Trail di Pennsylvania : Di bagian selatan negara bagian tersebut, terletak di daratan yang rata dengan trek yang bagus, kemudian lanjut ke daerah utara dan Anda akan memasuki daerah berbatu-batu, dimana treknya membutuhkan untuk melompati bebatuan yang konstan selama beberapa kilometer yang akan memperlambat para pendaki secara signifikan. Saya melihat ke beberapa faktor dibawah ini dan berdasarkan pengalaman pendakian saya sendiri sebagai acuan.

  • Jarak tempuh harian
  • Perubahan ketinggian harian – berapa meter Anda naik atau turun pada hari itu
  • Tingkat kecuraman naik dan turun
  • Kondisi trek (rata, berbatu, dll)
  • Jumlah berat yang dibawa seorang pendaki, berapa persen dari berat tubuhnya sendiri
  • Jika Anda di ketinggian 8000 kaki (2.438 meter), pertimbangkan efek dari berkurangnya oksigen dan aklimatisasi dalam pendakian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s